Aku pernah merasa bahagia... saat terik tak pernah membuatku menyerah. Aku gapai ilalang ilalang itu. Memainkannya diudara. Hingga putik putiknya berterbangan dan menyisakan sedikit saja pada tangkainya.
Mataku menyisir hamparan sawah itu. Yang ujungnya tak nampak di pelupuk mata. Aku hanya sendiri dipinggir hamparan. Masih mengenggam tangkai2 ilalang. Sesekali aku menoleh pada orang silih berganti, hilir mudik menunggang sepeda ontel di jalan setapak, dengan membawa tumpukan jerami. Melihatnya amat menyenangkan. Aku jadi merasa, tidak selamanya kita sendiri.
Sebenernya, ada sesak yang aku rasa. Dari rindu yang teramat dalam. Kadang ia mampu mencipta semburat luka di hati. Yang membuatku amat terbiasa mengusap air mata di pipi.
Allahu Rabbi... maafkan aku yang selalu membuatMu mendengarku mengeluh. Yang selalu menyaksikanku terisak dalam hampa. Karena aku hanya punya Engkau. Yang Maha Mengerti...
Ya Allah. Aku ingin menyentuh hatinya... aku ingin dia menjadi sumber kekuatanku yang dapat ku indra. Aku ingin menyaksikannya tetap bersanding bersama sosok tegap yang menjadi pelindung pertamaku di dunia. Bukan yang lain...
Tapi semua itu tak akan pernah bisa ku saksikan. Kebahagian itu terlanjur menjadi nestapa yang berkepanjangan. Aku mungkin tidak terlalu beruntung dalam hal ini. Tapi atas segala yang terjadi, disinilah aku mampu belajar untuk melebihkan syukur, memperluas sabar dan melapangkan ikhlas.
Alhamdulillah atas rahmatMu :')
Viana ♡ mama ayah
-First summer in Cairo
Sabda Rembulan
Jika kau bukan anak seorang ulama besar, maka menulislah...
Senin, 06 Agustus 2018
Minggu, 01 Juli 2018
Menanti Senja
Kamu...
Kamu tak perlu khawatir aku pergi. Karena hatiku telah kau simpan. Jika kau ingin melihat seberapa dalamnya kasih itu. Kamu tak akan mampu. Karena hanya Allah yang tau...
Kamu...
Adalah lebih dari alam bawah sadarku. Ketika kamu tak ada lagi, maka bisa jadi aku tak sadarkan diri...
Dan yang terberat,
kamu adalah ujian sekaligus karunia yang besar dlm hidupku..
Aku tak akan berharap padamu, karena itu akan terlalu sakit. Tapi aku akan diam bersama doa-doa yang ku lantunkan, di bulan yang terbaik ini...
Ramadhan, 1439 H
Langganan:
Komentar (Atom)

